Skip to content
June 22, 2008 / kingthunder

Kekelaman

From my friend letsing4joy

Friends, di Indonesia belakangan ini lagi gencar-gencarnya didengungkan kata-kata “kebangkitan nasional”. Inggrisnya national awakening. Ga terasa udah 100 tahun sejak pertama kali kita mendengar istilah ini.

Dulu waktu gue masih sekolah, gue ga terlalu peduli ama hal ini. Mau bangkit kek, engga kek, emang gue pikirin. Yang penting nilai sejarah gue bagus di rapor and that’s all. Trus waktu jaman sekolah, gue tuh paling sebel sama acara2 peringatan hari2 bersejarah nasional. Secara saluran TV cuma satu, which is TVRI of course.

So, kalo ada siaran langsung TVRI memperingati hari apa gitu, gue jadi sebel banget karena pasti acaranya pangung-panggungan, trus ada tarian2 daerah, plus medley lagu-lagu daerah dari sabang sampai merauke, trus drama visualisasi perjalanan bangsa Indonesia, trus menteri ini naek panggung, sambutan, trus pak presiden beserta ibu naik panggung trus salam-salaman, ditutup dengan seluruh pengisi acara naik ke panggung, dan ending-nya mbak Ussy Karundeng dari TVRI whose voice is similarly alike or reminding me of upacara bendera akan tiba-tiba muncul di depan kamera, setengah screen tv kita, dengan latar belakang panggung yang dilimpahi potongan kertas warna-warni berguguran dari atas, plus background lagu kebangsaan, dengan salam ala TVRI yang begitu terkenal “Saudara-saudara sebangsa setanah air, demikian telah kita ikuti siaran langsung memperingati …..”

Tapi itu dulu. Tahun berganti tahun, saluran TV mulai bermunculan. Mulailah kita dibombardir sama film-film holywood yang penuh darah, sinetron kebengisan mertua vs mantu, infotainment yang isinya gosip mulu, berita kriminal orang dibunuh, dibakar, diperkosa, dan semua acara-acara yang ga mendidik. Terus terang sekarang gue kangen ama TV jaman dulu. Acaranya bener-bener santun, sopan, dan disensor. Bahkan belakangan ini kalo gue lagi iseng gue suka banget nonton kuis bahasa inggris di TVRI, watching those bright and smart high school students in english competition *walopun gambarnya burem karena TVRI ga jelas ditangkep di daerah rumah gue* Rasanya berharga banget acara edukatif begini ditengah semua acara ga bermutu di belasan stasiun tv sekarang ini. Gue juga kangen sama persatuan semua stasiun tv yang rela give up agenda acara mereka sendiri demi bela-belain ikut relay siaran langsung acara peringatan hari bersejarah Indonesia… Rasanya saat itu united we stand, semua bersatu, mengesampingkan kepentingan sendiri, demi mengenang bahwa negara kita ini (pernah) bersatu… dan mencoba mengangkat kembali kenangan indah persatuan masa lalu… supaya kita tersadar kembali siapa kita sebenarnya…

Dan begitu bangsa kita ditimpa masalah bertubi-tubi, krisis moneter, ekonomi collapsed, kerusuhan mei, demonstrasi di sana-sini, pembakaran rumah-rumah ibadah, gue sering merenung what has been going on with this country. Kemana bangsa yang “katanya” ramah-tamah ini? Apalagi setelah kenaikan BBM ini. Rasanya ada tekanan berat di bangsa ini yang membuat orang-orang jadi pada galak dan gahar. Dikit-dikit marah. Tersinggung dikit, langsung bakar, langsung jarah… Apalagi pas denger lagu-lagu perjuangan yang banyak dipasang di tv menjelang hari kebangkitan nasional lalu, entah kenapa gue jadi tersentuh banget dan mata gue langsung panas dan berair. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita… Tanah air pasti jaya… Indonesia tercinta… Kemana perginya satu nusa satu bangsa itu? Kenapa kita sekarang saling serang, saling bakar, saling bunuh, hanya karena kita berbeda? Kenapa? Kenapaaa???

Dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah: kemana orang-orang Kristen yang seharusnya berdiri atas bangsa ini? Apa yang kita lakukan bagi bangsa ini? Ngumpet di balik tembok gereja, yang penting adem, dingin, ada AC, praise worship nya bagus, dah bayar perpuluhan, dah bayar pajak, selesailah tugas kekristenan gue. Yang penting gue diberkatin, ada penghasilan, anak sehat, sekolah beres, selesai. At least ada bahan kesaksian: Tuhan Yesus kasih berkat berupa ini itu dll. Yang penting kita sekeluarga dah bantu pelayanan si hamba Tuhan ini itu, tiap hari Minggu setor muka untuk digembalakan, trus si gembala “mengawetkan” kita alias preserve us di “kulkas” adem gereja sampai Tuhan Yesus datang. Trus masuk sorga.

Is that all? Terus terang gue wondering apakah kekristenan cuma segitu doang. Bertobat, lahir baru, dibaptis selam, terima baptisan Roh Kudus, bisa bahasa roh, udah… mentok. That’s it and that’s all. Ambil pelayanan, trus sokong/support pelayanan hamba Tuhan tertentu, trus setia supaya bisa di”awet”kan sama gereja sampe Tuhan Yesus dateng. Kok rasanya kita “cuma” dipake sama hamba Tuhan untuk bantu mereka? Aren’t we supposed to do something better than that???

That’s why gue ninggalin gereja lama gue karena itu. Kok rasanya kekristenan di sana jadi egois banget ya? Yang sering gue denger dulu adalah “senang terus, menang terus, makan terus” dari balik mimbar. Why does it sound so selfish? Yang penting gue-senang-gue-kenyang trus peduli banget orang lain gimana? Aren’t we supposed to weep and cry for this country when our fellow Indonesians are suffering? Aren’t we supposed to do something about it?

Apakah ini bukannya ignorance? Ketidakpedulian? Kekelaman dahsyat? Bikin kita jadi kebal, mati rasa, tumpul nuraninya, dan akhirnya jadi bebal alias stupid ga mau diajar. Yang penting perusahaan gue maju, terus produksi, peduli amat perusahaan lain bangkrut. Kalo mereka bangkrut asik dong. Ga ada kompetitor. Gue tambah kaya. Order masuk ke gue semua. Dia Kristen apa bukan sih ga urusan.

Apakah ini namanya kekristenan? Just me and my money? Apakah ini yang namanya kesuksesan? Sukses di atas ketidaksuksesan orang lain? I don’t think so. Kesukesan sejati artinya kita bisa membuat orang lain sama suksesnya seperti kita. Jika semua orang Kristen bermental seperti ini, betapa majunya bangsa kita. Kita akan bahu membahu saling menolong, dengan satu tujuan: agar orang lain bisa sesukses kita dan orang itu bisa kembali mengajarkannya ke orang lain. Mengajar. Memuridkan. Satu sukses jadi dua. Dua multiply jadi empat. Empat jadi lapan. Lapan jadi enambelas. Dst dst. Akibatnya? Ekonomi satu daerah meningkat, meluas ke daerah sekitarnya, satu propinsi, satu pulau, satu bangsa.

That’s why lama-lama gue jadi mencari-cari sesuatu. Cari jawaban apakah cuma gue aja yang mikir gini. Cari gereja yang bisa jawab pertanyaan di kepala gue ini. Cari tau apa yang salah dengan mentalitas kita-kita orang Kristen ini yang cenderung merasa nyaman as long as I am blessed. Dan begitu gue nemuin satu gereja ini dua tahun lalu, gue belajar suatu pelajaran berharga.

Senior pastor-nya bilang bahwa tugasnya sebagai seorang gembala adalah memperlengkapi kita-kita ini, jemaatnya, untuk suatu pelayanan di marketplace. Artinya, bukannya jemaat “dipake” untuk bantuin pelayanan gembala, tapi justru sebaliknya. Gembala memperlengkapi, mengajar, menyiapkan jemaatnya untuk “pelayanan” yang sesungguhnya di dunia nyata, yaitu marketplace ministry. Di hari Minggu gembala mengajarkan kebenaran firman Tuhan bagaimana menegakkan kingdom principles dan kingdom values di dunia kerja kita masing-masing. Bagaimana piercing the darkness with kingdom values. Bagaimana stay strong dan make influence ke sekeliling kita dengan prinsip firman Tuhan. Bagaimana memenuhi amanat agung kita sebagai pengikut Kristus di bumi ini: yaitu menjadikan semua bangsa murid-Nya. Bagaimana mengadakan pelayanan pendamaian antara sesama yang terhilang dengan Tuhan. Dengan demikian, kerajaan Tuhan ditegakkan di muka bumi ini…

Kita adalah pelayan baris depan-Nya Tuhan. Kita-kita inilah yang harus bergerak di semua bidang. Dimanapun kita bekerja, itulah platform yang telah Tuhan sediakan bagi kita untuk menjangkau jiwa-jiwa, untuk take dominion, untuk occupy the land, untuk jadi agent of change, agar terjadi koalisi pengusaha bermental kerajaan sorga karena kita ditetapkan Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa…

Gue begitu seneng begitu tau hal ini. Inilah yang gue cari selama ini. Gue tau Christianity is much more exciting than “senang terus, menang terus, makan terus”. I know that I know that I know I must do something for this country. Gue tau Tuhan bikin gue jadi anak-Nya untuk suatu tujuan besar, suatu tugas besar, dan bukan sekedar maju altar call, bahasa roh, merinding-merinding, rebah glepak, trus pulang. Memang rebah dalam roh tidak bisa disangkal. I do agree with that. Tapi abis itu apa? Begitu terus tiap minggu? Ya engga lah. Mesti naek level dong. Abis terima Roh Kudus itu ya kita mesti do something.

I know He has a special calling for each of us untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Go ahead. Pergi ke marketplace ministry. Keluarga, hukum, kepemerintahan, media dan komunikasi, art-entertainment, pendidikan, ekonomi. Taklukkan seven mountains itu. Setiap orang pasti at least berada dalam one of those seven mountains. Occupy the land, take dominion. Ubah mountain itu menjadi kemuliaan Tuhan. Jangan sekedar dateng kerja sekedar kerja. Yang penting setia kerja, dapet gaji bulanan, cukup untuk makan minum transport bayar cicilan rumah/mobil, bayar uang sekolah, dan sedikit sisa untuk liburan or jalan-jalan. That’s it. How boring. Life’s much more than that. Masih banyak visi Tuhan yang belum tergenapi. Masih banyak jiwa-jiwa yang setiap detik terhilang ke neraka. Masih banyak mereka yang haus kasih Tuhan yang tanpa syarat. Masih banyak orang yang kelihatannya begitu sibuk tapi ga tau untuk apa sebenernya mereka hidup di dunia. Sayangnya masih banyak gereja yang belum menyadari ini…

Sejak gue tau kebenaran ini dua tahun lalu, gue jadi semangat banget ngejalanin hari-hari gue. Setiap minggu senior pastor selalu bukakan hal-hal baru tentang market place ministry yang bikin gue bergairah menjalani hari-hari kerja gue. Senior pastor selalu membakar semangat kita setiap minggu-nya untuk terus maju berperang di hari senin-sabtu dengan fresh strategies, new revelation, new creative ideas, yang semuanya berasal dari Biblical principles.

Rasanya seneng banget ada mentor yang terus mendorong kita menegakkan kerajaan Allah dalam pekerjaan kita sehari-hari, apapun pekerjaan itu. Rasanya seneng banget knowing that I can do something for the Lord. Rasanya seneng banget bisa jadi satu balok bagi pembangunan Indonesia, walopun gue cuma kerja kantoran biasa. Tapi Tuhan ga anggep itu biasa-biasa aja. Tuhan punya big assignment untuk gue. I’m in a special mission from the Lord. But He doesn’t leave me alone. He provides me with a community that can teach me and equip me. Rasanya seneng banget kita punya komunitas cell yang melatih kita how to win souls for Christ in our marketplace ministry.

Ga ada masalah apapun pekerjaan itu. Semuanya kita punya peran sebagai the missing piece in a puzzle yang membuat lengkap satu gambaran utuhnya Tuhan. Economy? Kerja dengan prinsip integritas, honesty, no double bookeeping. Legal? No bribery, no compromising, the whole truth nothing but the truth. Government? fight for the people rights. You’re the servant and milikilah mental seorang servant. Media? Conquer the media world with Biblical truths. Use your creative talent to glorify the Lord. No pornography, no violence as the minimum standard. Use the creativity in you because He is a creative God. He’s the Creator, anyway. Art-entertainment? Jangan serupa dengan dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Ga perlu ngikutin gaya dunia, create your own style that can draw people to God. Pendidikan? Tanamkan nilai-nilai kebenaran sedari dasar. You have all the chance untuk menanamkan biblical truths dari hari ke hari and you’ll see that your students never forget it sampai dewasa nanti.

Tapi on top of that, jangan pernah lupa panggilanmu sebagai anak Allah. Great Commission: Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridKu… Jiwa-jiwa di sekelilingmu itu akan Tuhan tuntut di hari penghakiman nanti. “Berapa banyak yang terhilang yang telah kau bawa kepada-Ku?”

So, orang-orang marketplace, ga usah sibuk pelayanan sana-sini. Sibuk pelayanan ga bikin kita benar di hadapan Allah. Fokusin aja satu pelayanan: pelayanan pendamaian. Damaikan manusia dengan Allah. Itulah pelayanan terbesar yang bisa kita bawa ke Tuhan. Kalo kita peluk peranan kita sebagai spiritual parent, maka kehidupan pekerjaan kita tidak akan pernah sama lagi. Jiwa-jiwa itu menanti kasih-Nya. Kita kerja di kantor bukan karena duit semata. Kita ada di sana karena Tuhan tetapkan kita disana. Menggarami. Menginjili. Memenangkan. Merawat. Memuridkan. That’s the big picture, the main idea. The work is only the platform for us to enter in.

Why?

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

KARENA JIWA-JIWA BERHARGA DI MATA TUHAN…


—— the work is only the platform for us to enter in * I love it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: