Skip to content
May 8, 2008 / kingthunder

Penantang Global

Hello guys dibawah neh ada artikel yg inspire me (nendang banget). And maybe some of you uda baca if not then it’s good for you – and specially buat km yang ada di business mountain.

Read article below

Menjadi Penantang Global
Kamis, 17 April 2008
Oleh : Harmanto Edy Djatmiko

Indonesia masih memiliki banyak perusahaan yang berpotensi menjadi pemain kelas dunia. Yang diperlukan hanyalah pemetaan industri yang lebih baik, agar memudahkan penetapan strategi dan eksekusinya.

Gampang sekali — dan Anda pasti sudah bosan melakukannya — mendaftar kelemahan-kelemahan Indonesia. Di bidang apa pun: ekonomi, politik, sosial, budaya. Biasanya disertai beragam emosi negatif seperti rasa sedih, sesal, amarah, hingga sumpah serapah. Terkadang, karena sedemikian seringnya mendengar buruknya kondisi negeri yang telah lebih dari 60 tahun merdeka ini, banyak orang mengambil sikap yang lebih aman dan “sehat”, setidaknya bagi diri sendiri: acuh tak acuh.

Untunglah, kali ini, yang melakukan pekerjaan membosankan itu adalah Boston Consulting Group (BCG), konsultan bisnis asal Amerika Serikat. Setidaknya kita jadi bisa lebih santai menanggapinya. Syukur-syukur kalau malah mendorong kita mengambil sikap yang lebih positif. Maklum, BCG termasuk lembaga yang selain terkenal, juga kredibel di dunia.

Studi kasus BCG tersebut, yang kemudian menjadi acuan The Economist ( edisi 28 Februari 2008 ) untuk menurunkan tulisan “The Tigers that Lost Their Roar”, sebetulnya berbicara dalam kerangka makro di tingkat dunia. Tidak secara eksplisit “menyerang” Indonesia. Hasil temuannya, dari 100 perusahaan multinasional kelas dunia di emerging economies (tidak memasukkan Singapura), hanya lima perusahaan yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Thailand diwakili dua perusahaan, Charoen Pokphand dan Thai Union Frozen Products. Malaysia juga diwakili dua perusahaan, Petronas dan Malaysia International Shipping Co. Indonesia? Dari begitu banyaknya perusahaan beraset raksasa yang dimiliki negeri ini, ternyata hanya satu yang bisa dikategorikan perusahaan kelas dunia, PT Indofood Sukses Makmur.

Mungkin kita bisa berkilah, masih mendingan Indonesia ketimbang Filipina yang tak mampu mewakilkan satu pun perusahaannya. Namun, tunggu dulu. Kalau kita mau jujur, wakil kita yang cuma satu itu pun — Indofood — sebetulnya tidak layak mendapat predikat itu. Sebab, kita semua tahu, sejak awal berdirinya perusahaan swasta murni ini sudah menerapkan praktik bisnis tak terpuji, yakni berkolusi dengan pemerintah untuk memonopoli bahan baku, yang akhirnya diteruskan dengan monopoli pasarnya.

Kembali ke studi BCG, dibandingkan dengan emerging economies lainnya dalam sakala dunia, wakil dari Asia Tenggara memang tak ada apa-apanya. Cina diwakili 41 perusahaan, India 20 perusahaan, dan Rusia 6 perusahaan. Bahkan Brasil, yang populasinya hanya sepertiga dari negara-negara di Asia Tenggara yang mencapai 570 juta jiwa, memiliki 13 perusahaan. Padahal, 10 tahun lalu, belum ada satu pun perusahaan di Brasil yang diperhitungkan di kancah global.

Tentu ada sejumlah alasan mengapa negara-negara Asia Tenggara disorot lebih tajam. Pertama, beberapa negara di kawasan ini (di luar Singapura) telah melakukan pembangunan ekonomi terlebih dulu dibanding negara-negara di belahan Asia lainnya. Indonesia, misalnya, telah menikmati bonanza minyak pada tahun 1974 ketika, pada tahun yang sama, Singapura baru mendirikan Temasek.

Kedua, perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara tidak memiliki apa yang disebut global consumer brand seperti Samsung, Hyundai, KIA dan LG dari Korea Selatan. Ketiga, Asia Tenggara tidak memiliki perusahaan yang jago di bidang teknologi seperti di Taiwan dengan AU Optronics dan Taiwan Semiconductor-nya.

Alasan terakhir, Asia Tenggara tak punya jawara global penakluk dunia macam Tata Steel, Ranbaxi dan Wipro dari India. Atau, Huawei Lenovo dan Suzlon dari Cina. Seperti disindir The Economist, kalau bertanya kepada para investor di London atau New York tentang perusahaan Asia Tenggara yang mereka kagumi, dengan cepat mereka cenderung menyahut: Singapore Airlines.

Seperti diungkapkan di awal tulisan ini, kita memang bebas bereaksi atas penilaian apa pun terhadap Indonesia. Namun, pilihan sikap dan reaksi kita sungguh berperan untuk membentuk masa depan seperti apa yang kita inginkan. Menyimak studi BCG yang cukup objektif disertai banyak data kuantitatif tersebut, sudah saatnya kita melihat dan mencermati problem yang kita hadapi dengan kepala dingin dan pendekatan yang lebih rasional, tak sekadar emosional.

Kita, misalnya, tak perlu bosan mengulang-ulang perkataan bahwa dengan karunia kekayaan alam yang berlimpah, Indonesia sesungguhnya masih memiliki potensi besar untuk membangun perusahaan-perusahaan kelas dunia. Juga, kita tak perlu bosan, misalnya, untuk merenungi bahwa Petronas Malaysia yang berguru kepada Pertamina pada tahun 1973 kini menjelma menjadi raksasa minyak yang disegani di kancah global. Tiap minggu, Petronas menjadi salah satu global consumer brand yang membetot perhatian jutaan manusia di dunia karena menjadi sponsor salah satu tim Formula-1.

Masih soal Petronas, bagi warga Malaysia sendiri, perusahaan negara ini selain mendatangkan kemakmuran, juga menjadi sumber kebanggaan dengan prestasinya membangun Menara Kembar dan Sirkuit Sepang. Ini bukan kebanggaan semu. Dua aset properti ini ternyata mampu menghasilkan devisa bagi negara karena sekarang telah menjelma menjadi daerah tujuan wisata yang menarik bagi para turis asing maupun lokal. Bukan mustahil, sebentar lagi bakal berkibar global consumer brand lain dari Malaysia. Lihatlah, setelah berhasil menyadap ilmu dari Pertamina, kini mereka sibuk mengakuisisi dan membenahi perusahaan-perusahaan besar Indonesia, terutama yang bergerak di sektor perkebunan dan perbankan.

Melihat sepak terjang negara serumpun itu, sudah saatnya pula kita menanggapinya tidak dengan emosional, melainkan dengan kepala dingin. Kalau perlu, malah gantian kita yang dengan rendah hati mau belajar dari sukses mereka. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Terlebih, di bidang kehidupan sosial-politik, Indonesia telah terlebih dulu memasuki era demokratisasi. Kalaupun sekarang kondisi sosial-politik kita masih tampak karut-marut, anggaplah itu biaya yang harus kita bayar. Toh, dengan segala kekurangannya, arah kehidupan demokrasi kita semakin jelas.

Selain itu, Indonesia pun sesungguhnya masih memiliki begitu banyak perusahaan yang berpotensi menjadi para penakluk pasar global. Menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama, terlebih para pengusaha dan asosiasi terkait, untuk melakukan pemetaan industri yang lebih baik. Langkah ini selain akan lebih memfokuskan arah pengembangan industri, juga mempermudah penetapan strategi berikut eksekusinya. Sementara itu, pemerintah, lewat produk kebijakannya, tentu saja harus mendukung all out semua upaya ini.

Sumber : Majalah SWA Sembada

One Comment

Leave a Comment
  1. Yudhi H.Gejali / May 9 2008 6:53 am

    Indonesia is the great country with small nationalism in her citizens…
    Common Church..impact this land, Indonesia!
    Where is Christian businness man???
    Where is Christian politcian??
    Where is Christian media??
    Where is Christian health provider??

    Yes there it is, but it is too small in number..
    and too weak to impact..

    Christian have to go to the ends of the world..!
    and this we are, in Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: