Skip to content
April 25, 2008 / kingthunder

Krisis, Stimulator Sukses

Kata “krisis” bagi kebanyakan orang berarti musibah atau bencana, tetapi pengertian “krisis” akan sangat berbeda jika pandangan kita terfokus kepada Tuhan. Krisis bisa menjadi stimulator atau katalisator yang mempercepat perjalanan kita ke tempat yang jauh lebih baik yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Setiap orang Kristen bisa mengalami krisis. Krisis yang terjadi bisa menjadi titik balik apakah keadaan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Krisis adalah stimulator atau katalisator, yaitu alat bagi Tuhan untuk mempercepat janji-Nya terjadi, sehingga kita masuk ke peranan tinggi yang Tuhan janjikan.

Daud tidak bisa duduk di tahtanya jika ia tidak mengalami krisis dengan Saul. Daud tidak pernah kepahitan pada Tuhan ketika Saul mengejar hendak membunuhnya. Daud mengerti krisis yang dihadapinya adalah “sekolah” yang akan membawa dia sampai ke tahta dan ia bisa memakai mahkota dari Tuhan.

Krisis yang terjadi pada Yusuf juga merupakan “sekolah” di mana ia belajar menjadi seorang pemimpin besar, karena seorang pemimpin tidak dilahirkan melainkan dibentuk melalui krisis. Karakter terbentuk sehingga pemimpin dijadikan.

Demikian juga Ester. Pada waktu ia dan bangsanya mengalami krisis, ia melakukan kehendak Allah sehingga seluruh Israel diselamatkan. Ester adalah wanita extra ordinary yang berarti. Ia adalah wanita yang rela hidup di luar kenyamanannya. Ia menjadi orang besar dan terhormat karena Tuhan telah memanggilnya keluar dari kubangan dosa dan masa lalunya. Ia dahsyat bagi Tuhan. Ia wanita berdestinasi yang mengerti bahwa Tuhan mempunyai tujuan besar dalam hidupnya.

Masa lalu Ester bukan masa lalu yang menyenangkan. Ia ditinggal mati oleh orang tuanya dan ia dibawa ke pembuangan bersama dengan Mordekhai sepupunya yang mengangkatnya sebagai anak (Ester 2:5-7). Firman Tuhan mengatakan bahwa Ia mempunyai rancangan yang indah bagi setiap kita anak-Nya. Yeremia 29:11 berkata “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Ester mengerti bahwa tidak ada yang bisa mencuri destinasi yang telah Tuhan persiapkan baginya.

Ester yang elok perawakannya dan cantik parasnya mendapat kasih sayang Raja Ahasyweros melebihi gadis-gadis lain yang dipersiapkan untuk menggantikan Ratu Wasti yang dipecat karena tidak menuruti permintaan Raja Ahasyweros untuk memamerkan kecantikannya. Raja sangat mengasihi Ester dan mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.

Orang yang luar biasa tidak bebas krisis.

Sekali pun Ester wanita extra ordinary, bukan berarti ia luput dari krisis. Suatu hari bangsa Yahudi di Persia diancam untuk dipunahkan oleh Haman, asisten Raja Ahasyweros karena Mordekhai – sepupu Ester – tidak mau berlutut menyembah Haman yang setiap pagi melewati semua pegawai Raja di pintu gerbang Istana. Perintah untuk berlutut dan sujud kepada Haman ini adalah perintah Raja Ahasyweros atas permintaan Haman. Bagi yang tidak melakukannya akan dihukum.

Sebagai pejabat istana raja, Mordekhai tidak mau menyembah manusia. Ia hanya mau menyembah Allah yang hidup. Ketika Haman melihat bahwa ada seorang Yahudi yang tidak mau berlutut dan menyembahnya, maka sangat panaslah hati Haman dan ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja. Haman ingin memunahkan seluruh orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros. Haman menyampaikan maksud hatinya yang jahat ini kepada raja dan raja memberikan cincin meterai sebagai tanda setuju atas permintaan Haman.

Kemudian Haman memanggil para panitera raja. Sesuai dengan permintaan Haman, ditulislah surat kepada wakil-wakil raja, kepada setiap bupati dan setiap pembesar bangsa dengan perintah untuk membunuh semua orang Yahudi dari yang muda sampai yang tua. Surat perintah itu dibuat atas nama raja Ahasyweros dan dimeteraikan dengan cincin meterai raja.

Mengetahui itu, Mordekhai mengoyak pakaiannya, memakai kain kabung dan abu; kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. Sampailah berita ini kepada Ester. Ester mengirim dayang-dayangnya kepada Mordekhai untuk bertanya apa arti dan penyebab hal ini. Mordekhai menceritakan apa yang akan dilakukan Haman untuk memunahkan orang Yahudi.

Mordekhai menantang Ratu Ester

Mordekhai meminta Ester menghadap Raja untuk membatalkan rencana Haman dan membela bangsanya. Mordekhai menantang Ratu Ester, katanya: “…. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu!” Ester berada dalam krisis pada waktu ditantang mentornya – Mordekhai yang sangat dihormatinya.

Peraturan kerajaan Persia menentukan jika laki-laki atau perempuan menghadap Raja tanpa dipanggil, dan raja tidak mengulurkan tongkat emasnya maka akan mendapat hukuman mati. Pada saat itu Ester sudah 30 hari tidak dipanggil menghadap raja. Mordekhai mengatakan: “Sekali pun Engkau berdiam diri di dalam istana, bagi orang Yahudi akan ada pertolongan dan kelepasan dari pihak lain dan engkau dan keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” Bukan kebetulan Ester menjadi ratu, tetapi ada rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari ancaman Haman melaluinya.

Ester mau melakukan kehendak Allah bagi bangsanya. Ada 7 rahasia besar yang membuat krisis yang dihadapinya menjadi katalisator bagi Ester untuk menjadi wanita besar di Alkitab.

1. Ester tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia tidak fokus pada masa lampaunya yang hancur-hancuran sebagai orang buangan, tawanan dan yatim piatu, tetapi ia fokus pada Tuhan yang bisa memulihkan kehancurannya.

Jangan izinkan masa lampau memegang Anda, sehingga Anda tidak bisa mencapai masa depan yang cemerlang yang Tuhan telah siapkan bagi Anda.

2. Ester tunduk pada otoritas, ia tunduk pada Hegai dan walau pun ia sudah menjadi ratu ia tetap tunduk pada Mordekhai. Ester tidak lupa darimana ia berasal. Jika tunduk pada otoritas menjadi masalah bagi Anda, Anda adalah pemberontak dan akarnya adalah kesombongan.

3. Ester memiliki keyakinan batin dalam menghadapi tekanan, 1 Petrus 3:4 berkata “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”

Manusia batiniah adalah manusia roh yang harus tenang di tengah badai dan kenal siapa Tuhan kita. Tuhan akan turun tangan menolong kita pada saat kita sepakat dengan-Nya.

4. Ester rela melalui proses persiapan. Ia mengerti bahwa krisis akan membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Persiapan adalah proses dari dimulainya suatu janji dan diakhiri dengan penggenapan janji itu. Cara penggenapan janji itu adalah kita melewati serangkaian proses. Dan melalui proses, kita akan mengerti adanya “tujuan ilahi” sehingga kita mengerti perkataan Yusuf di Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan,…”

5. Ester berhasil karena dia mencari hikmat Allah. Yakobus 1:5, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya.”

Apakah hikmat itu? Hikmat adalah karunia yang Tuhan berikan pada kita semua untuk mengetahui bagaimana memakai pengetahuan yang kita terima. Hikmat hanya diperoleh dengan kita memintanya kepada Allah. Pengetahuan kita peroleh dari pendidikan, tetapi diperlukan hikmat Allah untuk memakai pengetahuan itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

6. Ester mengumpulkan semua informasi yang diperlukan sehingga ia mengetahui bagaimana ia harus bertindak. Kita harus mengetahui banyak mengenai situasi yang sedang kita hadapi.

7. Ester terbeban bagi bangsanya. Kalau Anda mau menjadi orang yang luar biasa Anda harus mau terbeban bagi orang yang sedang terkena beban. Penuh belas kasihan dengan sesama!

Di tengah krisis, di mana Ester diminta Mordekhai untuk menghadap raja padahal raja belum memanggilnya yang bisa berakibat fatal bagi dirinya, Ester berkata: “Sekalipun ia terpaksa mati biarlah ia mati”. Ester bisa berkata demikian karena ia adalah wanita yang mengerti bahwa melalui krisis ini ia bisa mencapai destinasinya.

Ester meminta Mordekhai untuk menggerakkan umat Israel berpuasa selama 3 hari 3 malam bersama dengannya. Ia berpuasa dengan tujuan bisa mendengar instruksi dari Tuhan, apa yang harus ia lakukan. Yang dilakukan Ester menggerakkan surga, membuat hati Tuhan terjamah.

Suatu malam raja Ahasyweros tidak bisa tidur sehingga raja meminta dibacakan kitab pencatatan sejarah. Di dalam kitab itu tercatat tentang perbuatan Mordekhai yang pernah memberitahukan bahwa ada dua orang sida-sida raja yang mau membunuh raja Ahasyweros (Ester 6:1 & Ester 2:19-23). Mengetahui perbuatan baik Mordekhai, maka raja memikirkan kehormatan dan anugerah untuk diberikan kepada Mordekhai.

Pada waktu Mordekhai menghormati jalan-jalan Tuhan, maka Tuhan menghormati Mordekhai dan membawanya ke tempat yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Dengan memakai pakaian yang biasa dipakai raja dan kuda yang biasa dikendarai raja serta mahkota kerajaan di kepalanya, Mordekhai diarak melalui lapangan kota oleh Haman – seteru bangsanya – dengan menyerukan: “Beginilah kepada orang yang Raja berkenan menghormatinya.” (Ester 6)

Allah bekerja sama dengan kita untuk melakukan kebaikan bagi kita. Pada waktu umat Tuhan mengalami peperangan atau krisis, Tuhan menyediakan kemenangan bagi umat-Nya dengan cara kita mengangkat puji-pujian bagi Allah, menyatakan Dia besar, deklarasikan Dia lah Tuhan pemberi kemenangan. Kita diam di hadirat-Nya, mencari wajah-Nya dan menantikan Dia dengan Firman-Nya, karena firman yang memberikan kehidupan kepada kita.

Di tengah badai, Tuhan menyertai kita. Kita menghadapi krisis bukan dengan kekuatan sendiri tetapi dengan Dia yang memberi kekuatan kepada kita. Jika kita fokus kepada diri sendiri dan masalah yang dihadapi, maka kehancuran yang terjadi. Tetapi kalau kita fokus kepada-Nya, maka pemulihan akan terjadi. Iman kita kepada Tuhan bisa mengubah fakta yang kacau dan hancur menjadi baik.

Krisis yang dihadapi merupakan saat kita memilih. Pilihan yang benar bisa menjadi titik balik untuk yang baik terjadi. Kita perlu memiliki hikmat dari Tuhan yang akan membawa berkat bagi kita. Melalui krisis yang dihadapi Ester – wanita extra ordinary yang mau melakukan kehendak Allah dalam dirinya – ia menjadi alat bagi Tuhan untuk keselamatan bangsa Yahudi.

Siapa sangka ratu kecantikan dapat membawa keselamatan bagi suatu bangsa? Bagaimana dengan Anda? Apa yang menghalangi Anda untuk dipakai Tuhan secara luar biasa?

Oleh Ps Indri Gautama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: