Skip to content
March 16, 2008 / kingthunder

Belajar Tidur

Saya sudah berkali-kali mengatakan kepadanya agar istirahat, tetapi selalu saja disambut dengan banyaknya alasan yang tepat. Ya kerjaan menumpuklah, ya atasannya nggak pernah nganggurlah, ya nanti nggak enak dipandang orang lainlah, ya lain lain sebagainyalah. “Seharusnya kau sudah boleh pasang papan di depan kamarmu “maaf, sedang istirahat dari jam sekian sampai sekian”, dan HP juga sudah harus dimatikan jam sekian sampai sekian supaya kau istirahat total tanpa gangguan”. Saya hampir pingsan eh bosan karena tidak mendapat tanggapan yang baik; sebenernya diterima atau enggaknya saran saya sih nggak merugikan saya, tapi demi kebaikan dia. Tapi apa boleh buat, selama-lamanya kalau dia komplen ke saya mengenai sakitnya, saya nggak akan mengubah saran obat saya, yaitu TIDUR.Tetapi berulangkali juga dia sakit dan minta didoakan dan kalau saya mendapat laporan begitu saya jadi capek ati dan capek kerongkongan.
Capeknya itu karena saya kasihan banget kalau liat dia sakit itu menderitaaaa banget sampai ati saya sakit, dan saya juga capek mendengar keluh kesah sakitnya yang sama, tulang-tulang rasanya gemeretek patah-patah, bengkok-bengkok, nangis sendirian di kamar, nggak ada seorang pun yang tahu. Kasian bener deh dia itu, dan semuanya bisa disimpulkan dengan mudah: dia itu terlalu forsir kerja dan nggak mau istirahat dengan cukup.

Malam itu dia mengeluhkan hal yang sama lagi, dan saya bilang “Kau itu harus belajar tidur!” Sebenernya gampang banget kok obatnya cuman tidur. Tidur, ya tidur aja. Waktu Nabi Elia lari dari Izebel, dia kecapaian, lalu dia tidur; maka datanglah malaikat Tuhan membawa makanan untuk menambah energi, tapi kemudian dia disuruh tidur lagi, lalu makan lagi, dan tidur lagi. Memang obat mujarab itu makan tidur.

Banyak orang cari uang banting tulang mondari mandir jungkir balik mati-matian nggak kenal lelah, nggak mau diganggu, nggak mau dihambat, dihalangi, pokoknya terus kejar uang dan target – akhirnya pada saat uang udah terkumpul, dia masuk rumah sakit, nggak bisa nikmati, malah uangnya untuk ngrawat beli obat, dianya sendiri terkapar nyewa kamar kotak warna putih ukuran 3×5 bau obat-obatan dan bekas tidur mayat orang lain, di rumah sakit.

Waktu saya berkunjung ke rumah sakit di Singapore, saya diberi info bahwa rumah sakit itu penuh dengan orang Indonesia yang kaya, karena seharinya nyedot biaya jutaan rupiah, belum termasuk biaya obat dan dokternya yang bisa puluhan juta sehari. Jadi saya pikir apa gunanya cari uang repot-repot sampai jungkir balik kalau kita nggak bisa jaga kesehatan dan tidur dengan baik?

Baru saja saya mendengar kematian seseorang yang katanya nggak menderita sakit apa pun, tiba-tiba mati – sudden death, judulnya. Ah, saya mah kurang percaya ama yang namanya sudden death, kenapa? hanya karena nggak terdeteksi aja dari luarnya dikirain dia nggak berpenyakitan dalamnya. Justru yang mengerikan itu penyakit yang nggak terdeteksi yang tiba-tiba mematikan. Nah, itu kebanyakan penyakit dalam yang tubuh kita sebenernya udah nggak tahan nampung kecapekan yang berlarut-larut, kemudian tiba-tiba pada saat yang nggak disangka-sangka pertahanan tubuh drop dan goodbye.

Ini merugikan sekali! Masih muda kok mati mendadak. Masalahnya bukan rugi atau untungnya di dunia, tapi yang lebih penting dari itu adalah bahwa setiap makhluk harus menunaikan tugasnya di bumi dengan sempurna dan jika ia tidak menjaga tubuhnya dengan baik sesuai dengan hukum alam yang menyarankan untuk tidur dengan cukup, maka ia tidak akan menggenapi tujuan hidup. Jika ia seharusnya hidup sampai suntuk, genap dan menggenapi tujuan hidup, tetapi karena ia tidak menjaga kemah rohnya dengan baik, maka hidupnya terpotong di tengah-tengah atau pertigaan, dan ia harus inalilahi. Ini rugi, kita rugi, keluarga rugi, pasangan atau anak-anak rugi, dan tentunya Tuhan yang mempercayakan rencana tujuan-Nya juga dirugikan. Eh, jangan main-main, oi.

Itu sebabnya kita harus menjaga stamina tubuh dengan baik dengan cara tidur cukup. Mengapa tidur? Karena itu adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan, semua manusia diharuskan untuk melakukan itu tanpa terkecuali, bahkan Tuhan Yesus yang adalah Anak Allah juga harus tidur waktu Ia tinggal di bumi. Jika kita mengurangi jatah yang sewajarnya atau kurang dari cukup selama beberapa hari dengan konstan atau terus menerus, maka kekebalan tubuh kita jadi drop, dan mulailah ia memperlihatkan gejala kurang sehat. Jika tidak dibalas dengan tidur yang lama, lama-lama stamina mengendor dan timbul beberapa penyakit, seperti kanker, benjol-benjol, bengkak-bengkak di beberapa bagian tubuh, leukimia (sel darah putih makan sel darah merah), dan banyak penyakit-penyakit lain yang lebih membahayakan.

Jadi waktu saya diminta untuk mendoakan, saya sering menolak, karena penyakit yang ditimbulkan oleh penolakan untuk tunduk terhadap hukum alam ini tidak bisa disembuhkan oleh doa. Jika doa dengan instan dapat menyembuhkan penyakit yang timbul dari kesengajaan menabrak hukum alam, maka dengan mudah orang untuk melawan Tuhan. Sebab Tuhan sendirilah yang merancang hukum tidur ini agar manusia tunduk kepadanya, dan bukannya menyuruh Tuhan untuk tunduk kepada orang tersebut agar menyembuhkan penyakit yang ditimbulkan dari perlawanan terhadap hukum-Nya. Bukankah akhirnya berdoa dalam hal ini akan melawan Tuhan sendiri yang menciptakan hukum tidur?

Beberapa kali saya berdoa agar Tuhan menghapus “sistim penjagaan” di mulut saya yang jika kecapaian suka timbul sariawan dan panas dalam. Udah didoain berulang kali, tapi memang nggak ilang-ilang, kalau saya udah kecapaian, tandanya muncul dengan keluar satu atau dua sariawan di mulut saya. Kalau capeknya udah kelewat batas, dia muncul juga di lidah saya. Buat makan susah, buat ngomong apalagi. Tadinya saya jengkel (belasan tahun), tapi lama-lama saya bisa bersyukur juga; dalam arti bahwa saya mau mengucap syukur dalam perkara yang bagi saya tidak mengenakkan pun. Sebab saya melihat ada kebaikan di balik kesakitan ini; bagi saya sariawan ini adalah sinyal untuk STOP. Ini sangat ringan dibanding kebobolan sakit kanker atau diabetes, kencing manis, gula, kuning, jantung, asam urat, leukimia, darah tinggi, atau yang lain yang kemungkinan perawatannya menuntut perhatian seumur hidup.

Jadi, kalau saya udah sariawan, saya harus….? TIDUR. Obatnya memang cuman tidur cukup. Maunya sih kerja terus, nulis terus, khotbah terus,..tapi apalah artinya semuanya itu dibanding kesehatan yang prima? Apalah artinya kita berkarya banyak-banyak tapi akhirnya tidak bisa menikmati hasil kerja kita karena harus tergeletak di rumah sakit, nggak boleh makan ini itu, nggak boleh kemana-mana, nggak boleh ngapa-ngapain, nggak boleh ketemu siapa-siapa? Rugi khan! Itu sebabnya, bagi yang udah terlalu banyak kerja, terlalu forsir, terlalu banyak mikir perusahaan, gereja, jemaat, TIDUR. Please, demi kemuliaan Tuhan TIDURlah.

NB: Tulisan ini tidak ditujukan bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan, yang memang hobi tidur sejak lahir ceprot, yang kalau nggak diguyur air seember nggak melek-melek, yang kelopak matanya selalu lengket, yang denger alarm kenceng-kenceng di sebelah telinganya nggak mempan, yang loud speaker owlohuakbar udah nggak ngaruh sama sekali. Bagi yang demikian harus BANGUN dan belajar dari SEMUT.

From Maq Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: