Skip to content
March 14, 2008 / kingthunder

Etika Kepedulian

Hi guys, gw pengen banget tulisan ini tampil di blog ini. Dan gw percaya nih will give a lot of inspirations buat hidup loe. So, take it and be bless …Sebagai kesimpulan, penulis berpendapat bahwa etika kepedulian (ethics of care) lahir dari suatu kesadaran penuh yang mengakui wanita memang lebih caring in nature. Hal ini bukanlah sekadar teori ciptaan manusia semata, namun semuanya berawal dari proses penciptaan wanita – untuk apa wanita lahir ke dunia ini. Sesuai dengan firman Tuhan yang menyebutkan wanita adalah penolong yang sepadan bagi pria (TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” – Kej. 2:18)

Seorang penolong pastilah bukan seseorang yang dingin, acuh, tidak pedulian. Seorang penolong pastilah mempunyai empati, belas kasihan, dan kepedulian terhadap sesamanya. Itulah sebabnya etika kepedulian banyak didengungkan oleh kaum wanita. Bukan karena wanita lebih unggul atau superior dalam hal ini, tapi lebih karena ada sifat-sifat alamiah yang ditanamkan dalam hati seorang wanita oleh Tuhan untuk memenuhi panggilannya sebagai seorang ‘penolong’.

Tuhan tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang Dia tahu kita tidak mampu melakukannya. Tuhan juga tidak akan memanggil kita menjadi ‘penolong’ tanpa terlebih dulu memperlengkapi kita dengan kualitas-kualitas seorang ‘penolong’ seperti kepedulian, perhatian, belas kasihan, kemampuan nurturing, dsb.

Hal ini bukan berarti pria tidak diperlengkapi dengan rasa kepedulian. Pria juga mempunyai rasa kepedulian, seperti dibuktikan oleh banyaknya dokter pria yang truly altruist, guru pria yang a teacher by heart, dan masih banyak contoh lainnya. Namun pria tidak dipanggil untuk menjadi ‘penolong’, tetapi pria dipanggil untuk menjadi ‘kepala’.

Seperti layaknya kepala yang dipenuhi oleh pikiran, maka pria lebih cenderung menggunakan pikirannya daripada hatinya. Hal ini bukan berarti pria lebih unggul atau superior dari wanita, namun di sinilah letak kedalaman dan kedahsyatan rancangan Tuhan. Tuhan mempunyai panggilan yang berbeda untuk pria dan wanita agar mereka dapat saling melengkapi. Sepertinya Tuhan merancangkan bahwa pria menjadi alat untuk mencerminkan PIKIRAN-Nya, dan wanita untuk mencerminkan HATI-Nya. Mana yang lebih unggul? Tidak ada. PIKIRAN membutuhkan HATI untuk menjaga arah langkahnya, dan HATI mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pikiran.

Karena itu, etika kepedulian adalah salah satu bentuk kelembutan yang dapat mengatasi sisi kosong dari etika keadilan yang menemui jalan buntu untuk menjawab tingkat kekerasan yang semakin brutal saat ini. Ketika etika keadilan gagal menyelesaikan letupan-letupan kekerasan dengan mengajukan pertanyaan pada ada/tidak adanya bukti, maka etika kepedulian menjadi alternatif.

Etika kepedulian memberikan peluang bagi diberikannya kesempatan untuk merubah diri, memulai hidup baru dan memperbaiki kesalahan serta bersama-sama belajar dari kesalahan itu. Dengan ketulusan, akan terjadi sebuah pemulihan hubungan interaksi antara manusia.

Di titik ini, etika kepedulian patut untuk dibangun, dengan memusatkan diri pada saling keterhubungan. Saling mendengarkan. Saling menyampaikan. Saling mempedulikan. Dan inilah insting kewanitaan (maternal) yang menyebabkan wanita seringkali mengambil keputusan yang berbeda dengan pria.

Terakhir, penulis menyimpulkan bahwa bahwa men and women are different, but none is superior than the other. Perbedaan yang ada itu tidaklah membuat wanita lebih inferior dari pria atau sebaliknya. Perbedaan khas wanita ini berhubungan dengan pengalaman, cara dibesarkan di keluarga, dan yang terpenting, panggilan terutama dalam hidup seorang wanita. Panggilan wanita adalah memelihara dan melahirkan kehidupan. Dan nilai-nilai kehidupan – seperti memelihara dan melahirkan kehidupan itu – bukanlah nilai-nilai yang inferior.

Sebaliknya, wanita harus menyadari bahwa cara maskulin yang mengambil keputusan etis berdasarkan prinsip-prinsip etika yang abstrak (yaitu menerapkan satu prinsip umum untuk semua kasus), rasionalitas, ketidakberpihakan, keadilan, dan objektivitas, bukanlah sesuatu yang superior atau bahkan sesuatu yang tidak berperasaan. Sebaliknya, pria juga harus menyadari bahwa cara feminin yang mengambil keputusan berdasarkan particularity (yaitu menerapkan prinsip kasus-demi-kasus, dan bukannya satu prinsip umum untuk semua kasus), kepedulian, dan hubungan, bukanlah sesuatu yang inferior atau lembek atau plin-plan.

Perbedaan ini tidaklah untuk diperdebatkan yang mana lebih superior atau lebih inferior. Perbedaan ini ada sebagaimana adanya, karena memang begitulah adanya. Dengan menyadari perbedaan ini, pria dapat menjadi rambu penuntun bagi wanita untuk dapat mengambil keputusan secara bijaksana tanpa terlalu terhanyut dengan perasaannya dan kepeduliannya terhadap orang lain. Sebaliknya, wanita dapat menjadi rambu pengingat bagi pria untuk mengambil keputusan dengan tidak terlalu kaku berpegang pada prinsipnya sehingga melupakan perasaan dan kepentingan orang lain. Sekali lagi, perbedaan ada untuk saling melengkapi, karena memang kita – pria dan wanita – diciptakan untuk saling melengkapi.

God made the sun, God made the moon
To harmonize a perfect tune
One can’t do without the other
They just have to be together …

-fentybukanfeministapiharusbikinpapertentangfeminisme-

Sumber dari Letsing4joy

2 Comments

Leave a Comment
  1. hendra / Mar 31 2009 4:09 pm

    aku ada lah lelaki hahahha

  2. dendyzolivia / Oct 30 2011 8:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: