Skip to content
March 12, 2008 / kingthunder

Mengapa Sakit?

Sumber dari Milis

Cuaca menginjak bulan Maret ini mulai sedikit berubah. Hujan sudah mulai agak reda, dan jika siang hari matahari lebih sering terlihat dibanding hari-hari di bulan Januari dan Februari. Perubahan cuaca ini cukup melegakan, karena bisa mengurangi intensitas banjir di Jakarta dan sekitarnya. Tetapi bersamaan dengan meredanya curah hujan, ada ‘musim’ baru yang merebak luas, yaitu musim sakit.

Di koran banyak diberitakan anak yang terserang penyakit demam berdarah, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), diare dan penyakit musiman lainnya. Ternyata penyakit itu juga singgah di rumah saya. Sudah seminggu ini saya flu berat, radang tenggorokan dan pilek – rasanya mengganggu sekali; begitu juga istri. Puji Tuhan, anak-anak tidak tertular, karena selama masa pancaroba ini, mereka kita beri vitamin dan suplemen makanan yang cukup, sehingga daya tahan tubuhnya mampu untuk bertahan dan tidak tertular.

Hari Jumat minggu lalu adalah hari raya Nyepi; itu berati ada libur panjang selama tiga hari. Dengan kondisi badan yang flu berat ini seharusnya bisa saya manfaatkan untuk beristirahat. Tetapi niat saya tidak bisa kesampaian, karena saya dengan pendeta harus membawa anak-anak belajar Sidi untuk retreat di Puncak. Dilanjutkan pada hari minggunya harus melaksanakan baptis sembilan orang anak di pos pelayanan Cileungsi Bogor. Benar-benar hari yang padat dan tidak bisa ditinggalkan. Terpaksa selama tiga hari itu saya bertahan dengan kondisi tubuh yang sangat lemah, walaupun sudah dibantu dengan obat pereda flu dan vitamin.

Pada minggu malam sepulang dari pos pelayanan Cileungsi Bogor, badan saya panas ditambah mata selalu berair karena flu. “Menyerah nih,” pikir saya. Hari Senin ke berencana dokter lagi dan ijin untuk tidak masuk bekerja karena sakit. Tapi kemudian saya ingat bahwa Senin besok adalah hari pertama setelah libur panjang. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja, karena di hari pertama setelah libur panjang biasanya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal yang kedua adalah pertanyaan yang sangat menarik yang selalu muncul jika saya sakit, yaitu, “Mengapa sakit?”

Adalah sangat aneh, jika ada karyawan di tempat kerja kita minta ijin untuk tidak masuk kerja, kemudian kita bertanya, “Mengapa sakit?” Pasti yang bersangkutan akan tersinggung bahkan bisa marah, karena itu adalah pertanyaan yang tidak ‘berperikemanusiaan .’ Pada saat seperti itu justru orang ingin mendapatkan simpati, bahkan empati dari atasannya. Bagi kita sakit adalah suatu musibah, dimana semua orang tidak menginginkan itu terjadi.

Saya mendapat pertanyaan ini pada saat yang pertama kali melakukan Jaldis (perjalanan dinas) ke Jepang tahun 96. Pada waktu itu memasuki musim dingin di hari Senin, saya terserang flu berat. Saya masuk kantor dan minta ijin kepada direktur untuk ke dokter. Pak direktur yang sudah tua dan rambutnya putih semua mendengarkan seluruh penjelasan saya dengan penuh perhatian, dan melihat itu saya merasa lega karena nampaknya dia bisa memaklumi kondisi fisik saya saat itu.

Setelah itu pak direktur mengajukan pertanyaan yang sangat tidak saya duga sebelumnya, “Mengapa sakit?” Saya kebingungan setengah mati. Sudah tahu kalau kalau saya terlihat sakit flu berat, badan panas, tetapi mengapa masih ditanya, “Mengapa sakit?” Saya betul-betul tidak paham pertanyaan direktur tersebut. Bagi saya sakit ini adalah musibah, yang seharusnya sebagai seorang pimpinan justru beliau menaruh simpati, bukannya mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal. Pikiran saya kacau dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Sesaat kemudian pak direktur tersenyum, karena menyadari bahwa yang menghadap itu adalah orang Indonesia dan bukan orang Jepang. Pak direktur menjelaskan, bahwa sebagai seorang pimpinan kita selain harus bisa mengatur pekerjaan dengan baik, kita juga harus bisa mengatur kesehatan supaya tetap prima. Karena pekerjaan bisa berhasil, jika ditunjang oleh kesehatan yang baik. Pak direktur melanjutkan penjelasannya, bahwa pertanyaan ini biasa disampaikan kepada para karyawannya, dan saya yang saat itu berada di Kantor Pusat itu juga diminta memahami keadaan yang ada di sana.

Kemudian pak direktur bertanya, apa saja kegiatan saya pada hari sabtu dan minggu. Saya menjawab, bahwa pada dua hari week end tersebut saya jalan keluar bersama teman-teman satu bagian sampai hari minggu malam. “Kemudian tadi malam tidur jam berapa?” tanya pak direktur. “Sekitar jam dua,” jawab saya jujur. Pak direktur kemudian menyampaikan bahwa untuk menjaga kesehatan di musim dingin, kita harus makan yang cukup dan istirahat yang cukup. Karena tubuh memerlukan lebih banyak energi untuk mempertahankan diri melawan cuaca yang ekstrem. Sedangkan apa yang telah saya lakukan adalah, saya mengabiskan waktu dua hari week end untuk jalan keluar dan pada akhirnya kekurangan waktu istirahat. Itu membuat tubuh saya kehabisan energi untuk menghadapi cuaca dingin dan akhirnya jatuh sakit.

Saya akhirnya bisa memahami arti pertanyaan pak direktur tersebut, “Mengapa sakit?” Saya kemudian diantar oleh sopir perusahaan ke dokter di rumah sakit. Dokter menanyakan dengan teliti apa yang saya keluhkan, juga semua kegiatan yang saya lakukan sebelumnya. Saya menjawab semua pertanyaannya, seperti penjelasan saya kepada pak direktur.

Setelah semua pemeriksaan dilakukan, saya berharap dokter memberikan obat yang saya butuhkan supaya penyakit saya cepat sembuh, seperti yang biasa dilakukan para dokter di indonesia. Ternyata dugaan saya keliru. Dokter bukannya menuliskan resep obat, tetapi malah memberikan ceramah panjang lebar mengenai bagaimana cara menjaga kesehatan. Yang disampaikan adalah cara-cara menjaga kesehatan seperti yang telah disampaikan oleh pak direktur. Saya berusaha memahaminya dengan susah payah.

Kemudian dokter memberikan dua macam obat, hanya beberapa butir dan masker kain. Obatnya adalah obat flu dan obat sakit kepala; dan dokter berpesan bahwa itu diminum hanya bila sangat diperlukan. Yang penting adalah makan yang cukup, istirahat yang cukup dan masker kain harus selalu dipakai. “Mengapa harus dipakai dokter?” tanya saya tidak paham. Dokter menjelaskan, bahwa di musim dingin, kelembaban udara (humidity) sangat rendah, dan itu bisa memicu terjadinya radang tenggorokan maupun flu. Dengan memakai masker kain, maka kelembaban udara yang dihirup lebih tinggi – dan bisa mempercepat penyembuhan. Dia juga menunjukkan sebuah kotak mesin pengatur kelembaban udara di sudut ruangan. “Cara kerjanya sama dengan mesin itu,” doter menunjukkan contohnya.

Kemudian saya bertanya, mengapa dia tidak memberikan obat flu dan antibiotik seperti yang biasa dilakukan oleh dokter di Indonesia yang biasa saya temui? Dokter itu mengelengkan kepalanya dengan sedih, “Itulah masalahnya. Obat itu adalah racun. Pemakaian antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan justru akan merusak kekebalan tubuh. Obat yang paling baik adalah meningkatkan kekebalan tubuh dari dalam dengan cara alami, yaitu makan dan istirahat yang cukup serta olah raga yang teratur.”

Itu adalah pelajaran yang sangat berharga yang saya pelajari dari dokter di Jepang dan juga pertanyaan menggelitik, “Mengapa sakit?” Ternyata orang di Jepang memiliki kesehatan yang tinggi karena adanya kesadaran untuk menjaga kesehatan secara nasional. Para dokter dan tenaga medis menjadi ujung tombak untuk memberikan pemahanan mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Mereka sangat ketat dalam memberikan obat-obatan, termasuk antibitotik.

Ini berbeda sekali dengan yang terjadi dengan para dokter di Indonesia, dimana pemberian obat, apalagi antibiotik yang harganya sangat mahal merupakan pemandangan sehari-hari. Ada banyak ulasan di koran mengenai lingkaran yang menguntungkan antara produsen obat dan antibiotik dengan para dokter yang meresepkannya. Tetapi apa yang terjadi, tindakan untuk mengeruk keuntungan itu justru melemahkan ketahanan tubuh penduduk Indonesia secara nasional, dan bahkan membuat biaya tinggi untuk pengobatan yang sulit dijangkau oleh rakyat miskin. Saya tahu persis hal ini karena pernah bekerja sebagai seorang Medical Representative (detail) di salah perusahaan farmasi asing.

Kembali lagi dengan musim dingin di Jepang, pemandangan yang umum saya jumpai adalah orang-orang berjalan cepat dengan memakai masker kain. “Seperti yang sedang saya pakai,” pikir saya. Saya sekarang paham bahwa masker itu bukan semata-mata untuk menahan dingin, tetapi juga untuk mempertahankan kelembaban udara yang dihisap.

Ada satu hal yang menarik, yaitu mengenai tangga di mall. Mall di Indonesia umumnya dilengkapi dengan eskalator, lift dan tangga. Dan jika sedang week end, maka banyak orang mengantri, pertama di lift dan kedua di eskalator. Jika keduanya sudah padat, baru orang dengan terpaksa akan berjalan mempergunakan anak tangga biasa. Tetapi di Jepang justru sebaliknya. Setiap mall menyediakan tangga yang lebar, dan di samping kanan kirinya baru ada eskalator naik dan turun. Ada juga lift tetapi tempatnya tidak strategis.

Nah, yang umum terlihat adalah, banyak orang naik dan turun dengan menapaki anak tangga. Hanya beberapa yang mempergunakan eskalator. Itu pun ada semacam konsensus tidak tertulis di masyarakat, yaitu tidak boleh menutupi jalan di eskalator. Maksudnya adalah, jika berdiri di eskalator maka harus merapat ke sisi kiri. Tujuannya adalah memberi jalan bagi orang yang akan terus berjalan di eskalator. Jadi walaupun naik eskalator, orang tetap saja melangkahkan kakinya, dan itu diberi jalan di sebelah kanan.

Waktu saya bertanya kepada teman saya, mereka menjawab bahwa berjalan adalah olah raga utama di negeri ini. Dengan berjalan kaki sejauh delapan kilometer sehari, maka kebugaran tubuh akan bisa terjaga secara alami. Makanya, para dokter justru menganjurkan para pasiennya untuk berjalan melalui anak tangga, bukannya menghemat tenaga mempergunakan eskalator atau pun lift.

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang mempunyai anak sekolah SD, jika berangkat sekolah mereka naik apa? Dia menjelaskan, bahwa jika jaraknya kurang dari 3 kilo mereka harus jalan kaki. Jika lebih dari 3 kilo, baru boleh naik sepeda. “Wah sadis juga,” pikir saya. Tetapi ternyata justru itulah yang membuat anak-anak di sana sehat wal afiat. Apalagi di sekolah mereka, pendidikan olah raga dan menu makanan itu dikontrol ketat secara nasional. Setiap SD memiliki kolam renang, dan lapangan olah raga yang luas. Mensana in coropesano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat), rupanya bukan hanya sekedar slogan semata, tetapi telah diterapkan secara sungguh-sungguh oleh seluruh rakyat dan didukung oleh pemerintah.

Di toko banyak dijual pedometer, yaitu alat penghitung jumlah langkah, harganya mulai dari 3000 yen (250 ribu rupiah). Yang biasa dijual bentuknya kotak dan diselipkan di ikat pinggang, seperti bentuk radio panggil (pager). Pedo meter akan mencatat di dalam counter-nya untuk setiap langkah kaki yang dilakukan. Untuk menjaga kesehatan, dalam satu hari orang sebaiknya berjalan sebanyak 10.000 langkah, atau jika dikonversikan setara dengan jarak 8 kilo meter. Jadi pedometer dapat membantu kita mencatat jumlah langkah yang sudah kita lakukan selama satu hari. Dengan begitu, secara tidak langsung kita sudah melakukan olah raga yang cukup sambil melakukan kegiatan sehari-hari.

Hari ini saya bekerja dengan memakai masker kain, seperti yang disarankan oleh dokter di Jepang dahulu. Dan memang di tempat kerja saya, memakai masker kain saat sakit flu adalah hal yang biasa. Di lini produksi pun semua karyawan juga memakai masker kain. Jadi bukan merupakan hal yang aneh.

Saat saya ke dokter THT memeriksakan penyakit saya, dokter memberi saya obat pereda radang tenggorokan dan obat flu saja, tanpa memberi antibiotik atau pun obat yang lain. Doter THT langganan saya itu sudah tahu untuk tidak memberikan banyak obat – dan itu pun diminum hanya jika diperlukan saja. Dia ternyata juga setuju dengan pendapat saya, bahwa pengobatan terbaik adalah dengan meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawannya, melalui makan dan istirahat yang cukup dan olah raga yang teratur. Praktek dokter itu di sebuah rumah sakit swasta terkenal, yang biasanya memberikan obat dan antibitotik paten dengan harga ratusan ribu. Waktu saya tanyakan hal itu, dia menjawab bahwa umumnya pasien mengharapkan mereka bisa cepat sembuh setelah datang ke dokter terkenal – sehingga obat-obat itu akhirnya diberikan. Umumnya para pasien tidak sabar untuk menumbuhkan kekebalan tubuh melawan penyakit, yang membutuhkan usaha keras dan kesabaran yang lebih tinggi.

Jika melihat pendapat dokter THT tersebut dan juga pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pentingnya menjaga kesehatan secara alami dengan makan dan istirahat yang cukup serta olah raga teratur, maka pertanyaan, Mengapa sakit? tampaknya masih belum relevan untuk diajukan.

Sebenarnya Alkitab juga memberikan perhatian mengenai pentingnya menjaga kesehatan, yaitu: Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. – 1 Korintus 3:16-17.

Bagaimana mungkin saya berani membinasakan Bait Allah? itu adalah pertanyaan yang muncul dalam kita menanggapi firman Tuhan itu. Tetapi kenyataannya banyak hal yang kita lakukan justru berakibat pada pembinasaan bait Allah terebut. Mengabaikan kesehatan, atau pola hidup yang sehat adalah salah satunya.  Juga kita menemukan ada satu tindakan nyata yang masih banyak dijalankan oleh para pengikut Kristus dalam membinasakan bait Allah yaitu: merokok. Padahal di setiap bungkusnya dengan jelas ditulis : Peringatan Pemerintah: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Setiap tindakan manusia yang dengan sengaja merusak kesehatan diri sendiri atau orang lain, ternyata mempunyai konsekuensi yang mengerikan, karena : Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Kiranya pertanyaan Mengapa sakit? menjadi perenungan bagi kita untuk menjaga tubuh kita yang adalah Bait Allah, tempat berdiamnya Roh Allah, untuk kita persembahkan hanya bagi kemuliaan Allah sendiri. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! – 1 Korintus 6:19-20.

GBU
(Indriatmo)

One Comment

Leave a Comment
  1. nancy / Mar 13 2008 1:19 pm

    Aku culik beberapa friends kamu ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: