Skip to content
February 21, 2008 / kingthunder

Left Brain Dominate

Hello friends i hv important message that i receive about Left brain and Right brain. Saatnya to make shift from Left Brain Dominate to activate the Right Brain Spirit Connection. I will try next time to talk more about this message.Dibawah ini ada artikel dari Ps Indri yang sedikit banyak berbicara bahayanya ketika our Left Brain dominate. Enjoy it!

The Danger of Reasoning

Setiap orang pasti menghadapi masalah dalam perjalanan hidupnya. Biasanya ketika menghadapi masalah, secara otomatis orang mencari jalan keluar, mencoba mereka-reka dengan kekuatan alamiah kita untuk menyelesaikannya. Kita menganalisa dan mulai membuat pertimbangan, kemudian mulai bertanya-tanya: “Bagaimana aku bisa membayar kebutuhan anak sekolah anakku, bagaimana aku bisa mencapai destinasi, bagaimana mimpiku digenapi.”

Apabila kita terus mempertanyakan Tuhan, bercokol dalam masalah, bergumul dan mencoba menyelesaikannya dengan cara kita sendiri, maka hal ini akan membuat kita putus asa, berbeban berat, bahkan down dan depresi. Orang yang penuh pertimbangan seperti ini hidupnya 100% bertolak-belakang dari hidup percaya kepada Tuhan.

Kita tahu, bahwa semua pertimbangan dibuat di dalam pikiran. Roma 8:7 berkata: “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”

Dalam terjemahan bahasa Inggris versi Amplified, ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa “(that is) because the mind of the flesh (with carnal thoughts and purposes) is hostile to God, for it does not submit itself to God’s Law; indeed it cannot.”

Pikiran daging (carnal thoughts) kita berseteru atau bermusuhan dan tidak pernah sesuai dengan pikiran Tuhan. Selama kita mengikuti pikiran daging, kita tidak memikirkan pikiran Tuhan, malah sesungguhnya kita sedang membenci firman Tuhan, yang membuat kita tidak mentaati Tuhan. Pada saat itu, sesungguhnya kita sedang bermusuhan dengan Tuhan.

Pertimbangan Menuntun pada Ketidak-taatan

Dalam menghadapi tantangan, setan berusaha sekuat tenaga menipu kita dengan cara membuat kita mempertimbangkan dengan pikiran duniawi kita. Akibatnya kita tertipu dan disesatkan. Ketika Tuhan meminta kita untuk mengampuni maka pikiran kita berkata: “Ah itu gila, yang salah ‘kan dia!” Kalau kita terus melayani pikiran daging kita, maka akhirnya pertimbangan kita yang sesungguhnya adalah dusta itu kita anggap sebagai kebenaran.

Pertimbangan membawa kita pada ketidak-taatan. Orang yang membuat pertimbangan secara tidak langsung sedang berkata: “Tuhan, aku punya jalan yang lebih bagus daripada jalan-Mu.”

Pada waktu kita bersandar pada pengertian kita sendiri, maka sebenarnya kita sedang tidak mempercayai Tuhan sama sekali. Kita ijinkan pikiran kita mengontrol kita, dan akibatnya kita menikmati buahnya; yaitu kehidupan yang frustasi, bingung dan kacau. Banyak orang Kristen hidup seperti ini. Setiap kali menghadapi tantangan, secara otomatis dia membuat pertimbangan; akibatnya hidupnya penuh dengan kemarahan, emosionil dan mudah tersinggung.

Amsal 3:5 mengajarkan kepada kita untuk “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Hidup dengan pertimbangan sama seperti orang yang bermain jet coaster. Pikirannya liar tak terkendali. Pikiran liar ini harus kita tundukkan kepada firman Tuhan dengan cara mengambil keputusan untuk tidak menyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri, melainkan percaya kepada Tuhan dengan segenap hati bahwa Dia akan menuntun kita dalam damai sejahtera.

Karena itu waspadalah terhadap alasan yang logis namun dapat menuntun kita pada ketidak-taatan. Kita menemukan contoh dalam 1 Samuel 15. Dengan jelas Tuhan sudah memberikan perintah kepada raja Saul untuk menumpas seluruh bangsa Amalek dan segala sesuatu yang ada pada mereka (1 Samuel 15:3). Namun raja Saul melanggar perintah Tuhan dengan tidak menumpas seluruhnya. Pada saat nabi Samuel diperintahkan Tuhan untuk mengkoreksi raja Saul atas ketidak-taatannya; Saul membela diri dan mengajukan alasan-alasan logis berdasarkan pertimbangannya sendiri.

Ketika nabi Samuel berkata: “Kalau begitu kenapa ada bunyi domba dan lembu yang kudengar?” Raja Saul menjawab: “Oh itu rakyat yang mau! Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”

Kita lihat di sini, raja Saul selalu membuat pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Akibatnya dia tidak mentaati Tuhan dan akhirnya ditolak Tuhan sebagai raja atas umat Tuhan. “Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” – 1 Samuel 15:23.

Tipuan karena Pertimbangan

Tuhan menghendaki kita menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar firman saja, seperti dikatakan dalam Yakobus 1:22 – “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”

Dalam terjemahan bahasa Inggris, dijelaskan bahwa kalau kita hanya mendengar, maka kita menipu diri sendiri karena membuat pertimbangan-pertimbangan (reasoning) yang bertentangan dengan kebenaran. “But be doers of the Word (obey the message), and not merely listeners to it, betraying yourself (into deception by reasoning contrary to the Truth)” – James 1:22.

Raja Saul masuk dalam tipuan karena membuat pertimbangan-pertimbangan yang menjadikan dia sombong dan akhirnya melawan Tuhan. Deception by reasoning! Orang yang sombong adalah orang yang berjalan dengan cara berpikirnya sendiri.

Percaya dan Taat

2 Korintus 10:5 berkata, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”

Siasat ada di pikiran kita. Kita harus mematahkan setiap siasat, menawan pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Ketika kita menaklukkannya kepada Kristus, maka kita ijinkan Kristus yang menguasai pikiran kita. Kita belajar berjalan sesuai dengan pendapat Tuhan dan bukan pendapat kita sendiri. Berhenti mengatasi situasi Anda dengan kekuatan Anda sendiri sebaliknya percayalah kepada Tuhan! Yang Tuhan kehendaki dari kita hanyalah ketaatan kita.

Apabila kita berhenti membuat pertimbangan, maka kuasa supra natural Allah akan membawa kelepasan dalam kehidupan kita. Kunci agar kita terlepas dari pertimbangan-pertimbangan kita adalah percaya kepada Tuhan – Trust in God. Percaya kepada Tuhan membawa peristirahatan dan memberikan kepada kita sukacita, damai sejahtera dan kemenangan.

Ketika kita percaya kepada Tuhan maka kita sedang berkata: “Baik Tuhan, aku percaya kepada-Mu. Seluruh hidupku ada di tangan-Mu, aku tidak berusaha mengerti segala-galanya, aku tidak tahu bagaimana caranya, namun bila Engkau yang memegang situasiku maka hidupku pasti berubah.” Akibatnya kita terlepas dari roh beban berat.

Bila kita sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa memberikan kemerdekaan dan kelepasan kepada kita, maka kita harus berhenti mereka-reka. Mari kita mempraktekkan apa yang Tuhan pikirkan sesuai Filipi 4:8 yang berkata: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Oleh Ps Indri Gautama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: