Skip to content
November 9, 2007 / kingthunder

Kisah Laura’

Saat itu pas jam 7 malam, kami baru saja selesai makan malam dan bersantai untuk menonton berita sore. Handphone suami saya berdering terlihat nama Laura dilayar handphone. Kami selalu senang mendengarkan kabar darinya. Laura begitu penuh dengan gairah hidup, roh anda akan terbakar hanya dengan berbicara dengannya. Kecuali untuk kali ini itu bukanlah suaranya. Ada jeritan serak dan isak tangis diseberang sana oleh suara yang saya tidak dapat cepat mengenalinya. Saya mendengar kata2 “Laura”, “Rumah Sakit” dan yang terburuk, “Tidak Bernafas” dan kemudian “aborsi”

Otak saya oleng, hati saya tertekan dan kehidupan yang saya ketahui berhenti. Yang tadi menelepon adalah teman dari Laura, Karen. Ia berkata pada saya apa yang terjadi, bahwa Laura sedang melakukan aborsi dan sesuatu berjalan sangat buruk. Karen sedang berada di ruang emergensi dan dokter memerlukan untuk berbicara dengan saya. Apa yang Karen tidak ketahui bahwa Laura saat datang ke ruang emergensi sudah dalam keadaan meninggal. Laura meninggal di ruang aborsi. Rumah sakit pertama2 hanya mencari keluarga terdekat untuk memberitahukan berita ini dan Karen bukanlah sanak keluarga.

Laura meninggal kata dokter itu padaku. Saya ingin mendengar “50-50” kesempatan hidup … Aku bahkan akan menerima “90-10” kesempatan hidup. Tapi kata “kesempatan hidup” tidak ada dalam perkataan dokter itu. Seluruh harapan telah pergi, bersama dengan putriku.

Putriku yang cantik, yang berharga, yang kami telah adopsi saat berumur 5 tahun, dan secepat itu terlupakan kalau kami bukanlah yang melahirkannya. Laura sudah menjadi bagian kami sebagaimana anak kami sendiri. Ia adalah sebuah pemberian yang tidak kami minta dan harta kami yang berharga. Saya mempunyai pertanyaan yang saya tidak akan dapat jawabannya, “kata kenapa.” Kenapa ia tidak datang kepada kami? Kenapa ia tidak memberitahukan kami ia sedang hamil? Kenapa ia berpikir bahwa aborsi adalah solusi untuk masalahnya?

Laura di besarkan di dalam keluarga Kristen yang penuh kasih. Laura menjadi marah ketika orang lain yang ia kenal melakukan aborsi. Laura mencintai anak2. Laura mengandung bayi dari tunangannya: tunangannya mengasihinya dan berkata ia tidak percaya-setuju akan praktek aborsi.

Ada beberapa pertanyaan yang saya dapatkan jawabannya. Saya bertemu dengan dokter yang menggugurkan cucu saya, dan yang melihat putri saya mengambil nafas terakhir. Ia hanya akan menemui saya di tempat umum, tanpa suami saya. Kami berbicara selama satu jam setengah. Berdasarkan pertemuan itu saya percaya saya tau apa yang terjadi dengan Laura. Ia tidak mengakui melakukan sesuatu yang menyebabkan kematian Laura. Ketika kami selesai berbicara mengenai Laura, saya berdoa, dan tanya Tuhan apakah ada sesuatu yang Ia ingin aku katakan kepada dokter ini. Ini yang saya katakan selajutnya … “Darah dari putriku ada atas tanganmu, darah dari cucuku ada atas tanganmu; darah dari setiap nyawa yang pernah kau ambil ada di atas tanganmu,” dan saya beranjak dari sana. Ia terdiam dengan kepala tertunduk.

Saat saya bersiap untuk pergi, saya bertanya padanya apakah ia akan berpikir mengenai putriku, dan mempertimbangkan untuk tidak melakukan lagi aborsi-ia berkata akan memikirkan hal itu. Saat saya meninggalkan tempat itu saya berdoa, dan berkata kepada Tuhan, “Dapatkah ia menyetop pria ini dari praktek aborsi? Apakah ini yang ada di pikiran-Mu, bahwa ia bahkan berhenti untuk melakukannya? Saya berpikir begitu sempit. Saya berpikir jika seorang gadis mengubah pikirannya (mengenai melakukan aborsi), saya dapat menemukan sepenggal penghiburan. Saya kemudian menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Saya belum pernah mengalami dalam hidup saya, suatu yang tragis, juga suatu kasih karunia yang luarbiasa.

Dari kematian putiku, saya tau’ bahwa Tuhan akan membawa kebaikan. Suatu yang mengenaskan; untuk putriku di hubungkan dengan praktek aborsi. Namun, jika Tuhan akan pakai untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya, maka jadilah.

Saya percaya kebenaran akan tampil, dan terang Tuhan akan bercahaya di atasnya. Kematian Laura memiliki dampak luarbiasa di seluruh negeri, dan bahkan sampai ke Kanada, tanpa ada berita lokal menyebutkannya. itu hanya keluar di media sekuler minggu ini-lima minggu setelah kematian Laura.

Saya sekarang percaya bahwa ini adalah panggilan saya untuk terus menceritakan kisah Laura kepada Gereja, dan dunia. Saya sungguh percaya bahwa aborsi bukanlah pilihan bagi gadis Kristen. Seorang Gembala bahkan meminta maaf pada saya dan Tuhan, karna tidak berbicara mengenai hal ini di mimbar. Kita sama2 memiliki asumsi yang salah. Ini adalah sebuah masalah di Gereja, dan satu isu yang perlu di khotbahkan dari mimbar. Kita harus bawa itu keluar, dan mendiskusikannya. Dan mungkin jika dapat, kita harapkan, kita bahkan menjadi aktif untuk menolak aborsi.

Saya mohon tetaplah berdoa untuk keluarga kami, dan beritahukan kepada yang lain kisah Laura.

Ibu Eileen percaya bahwa kisah Laura musti di ceritakan, dalam harapan bahwa ada kehidupan yang diselamatkan-baik bayi dan ibu muda-sehingga kematian putrinya tidaklah sia2. (Itu sebabnya saya memposting hal ini di Indonesia-NYA dengan harapan yang sama)

Laura Hope Smith umur 22 tahun, meninggal pada tanggal 13 September 2007, saat melakukan aborsi yang di lakukan oleh Dr. Rapin Osathanondh, pada Klinik Kesehatan Wanita di Hyannis, Massachusetts.

ABORTION IS NOT A CHOICE … STOP ABORTION!!!

SELALU ADA JALAN KELUAR …

Kasih Yesus tak pernah berubah …  Datanglah pada-Nya dan minta pertolongan dari hamba2 Tuhan dan Keluarga.

Don’t Give Up !!! JESUS LOVES YOU …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: